PEOPLE STORY

Pre-determinasi Ide akan Coffee Shop

Kota yang saya tinggali saat ini lebih berwarna dengan bermunculannya coffee shop. Kemanapun kamu pergi, setidaknya kamu akan menemukan dua hingga tiga coffee shop sepanjang jalan. Menyenangkan melihat banyak coffee shop memiliki bermacam tema, gaya interior, ukuran bangunan, beragam dekorasi dan fasilitas toko; tentunya sekarang saya memiliki banyak opsi toko untuk dikunjungi, tergantung toko mana yang mendukung tujuan saya saat itu.

Kadang saya terkagum untuk membayangkan segala investasi effort dari pendiri toko dalam membangun dan merancang usaha mereka sedemikian rupa, menunjukkan identitas brand, tujuan dan idealisme toko, menciptakan toko terbaik, nyaman serta ramah yang menyambut lebih banyak pembeli dan tentunya memenuhi kebutuhan kafein pengunjung atau apapun itulah tujuannya. Yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah, dari seluruh rancangan dan upaya yang dilakukan… 

apakah pernah sampai (tersampaikan) atau dipahami oleh pelanggan? Apakah desain toko dapat direspon dengan baik oleh pelanggan? Apakah tema tertentu berdampak pada prilaku atau interaksi pelanggan?

Sesungguhnya ini adalah ide lama yang muncul beberapa waktu lalu, namun butuh berminggu-minggu bahkan hingga hitungan bulan baru saya benar-benar menulisnya (mohon maaf, saya jarang menulis). Saya mulai bertanya demikian karena bagi saya, beberapa design atau tema tertentu tidak begitu cocok untuk suatu prilaku dan tidak mendukung aktivitas pelanggan. Misalnya: anda bisa melihat kalau meja itu bahkan terlalu kecil untuk ditaruh laptop 13inci, tapi tetap saja ada mbak-mbak dengan paras yang cukup lelah dan tumpukan kertas-kertas mencoba menyelesaikan studinya; atau sekeompok orang dengan HP miring, cukup memakan ruang area toko dan kamu bisa mengetahui bahwa mereka sudah berada di toko untuk waktu yang lama dengan melihat gelas-gelas kopi mereka yang sudah kosong; atau lagi (dan mungkin ini yang cukup sering kita saksikan) adalah sekelompok orang tertawa dengan kerasnya yang memaksa kepala kita untuk menoleh, sedang bergosip tentang permasalahan mereka dan memaksa kita untuk mendengarnya juga, mengingat pelanggan lain anteng sibuk dengan laptopnya masing-masing atau mencoba mendapatkan kencan sore yang cantik. Ada banyak lagi interaksi dan prilaku yang sepertinya kurang pas untuk dilakukan di tempat-tempat tertentu.

Saya paham kalau ruang publik adalah sebuah tempat di mana publik atau sekelompok masyarakat memiliki akses dan termasuk, tetapi tidak terbatas pada, jalan raya, trotoar atau area umum lainnya seperti sekolah, rumah sakit dan toko juga; maka menjadikan coffee shop sebuah ruang publik juga. Lalu, seiring dengan upaya mencoba menjawab pertanyaan kurang penting itu, saya memahami bahwa cara kita berprilaku di tempat-tempat tertentu (termasuk ruang publik) memiliki persepsi awal (persepsi yang telah tertanam) ataupun sebuah ide tertentu akan tempat yang kita tuju (predetermined idea). Persepsi itu mempengaruhi cara kita melihat, berprilaku, maupun cara kita mendapatkan pengalaman dari tempat tersebut, dan persepsi kita mengatur bagaimana kita merespon ruang. Karena itu jika kamu menemukan prilaku yang mengganggu atau tidak sesuai dengan desain toko yang mana pemilik toko sudah berusaha untuk merancangnya, mungkin saja mereka telah memiliki pandangan tertentu (ide/persepsi awal) tentang apa yang dimaksud dengan Coffee Shop. Maka pertanyaannya adalah, dari mana persepsi itu muncul? Dari mana ide tersebut berkembang (atau dikembangkan)? Siapa yang turut serta membangun persepsi-persepsi demikian?